Rabu, 06 Januari 2010

materi manajemen proyek dan resiko


Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum. Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan.

Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan risk manajemen melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi).

Manajemen proyek adalah cara mengorganisir dan mengelola sumber penghasilan yang penting untuk menyelesaikan proyek.

Hal pertama yang harus dianggap sebagai manajemen proyek adalah bahwa proyek ini diantarkan dengan batasan yang ada. Hal kedua adalah kemungkinan terbaik distribusi sumber daya. Manajemen proyek adalah seni mengontrol baik hal selama proyek, dari sejak dimulai sampai selesai.[

Tugas Softskill



Proyek Membuat Rumah Minimalis
1. Menentukan lokasi
Jika Anda memutuskan untuk membangun rumah Anda sendiri, maka hal pertama yang penting untuk dilakukan adalah memilih lokasi lahan yang akan dijadikan rumah tempat tinggal Anda. Di sini Anda perlu berhati-hati karena tidak semua pihak yang menjual atau menawarkan tanah tersebut mau dengan gamblang menjelaskan asal usul atau sejarah lahan yang dijual — apakah bekas areal persawahan, perkebunan, rawa, atau bahkan kuburan. Kenapa ini penting? Karena dengan mengetahui sejarah tanah tersebut kita dapat memperkirakan kondisi tanah saat ini dan sekaligus menentukan jenis dan tipe pondasi yang akan digunakan, serta menentukan efisiensi biaya dalam membangun rumah impian kita. Sehingga kita juga tidak terpengaruh dengan harga perumahan murah.
Kondisi tanah bekas persawahan atau rawa biasanya tidak stabil, sehingga disarankan untuk melakukan pengetesan kekerasan tanah terlebih dahulu guna mendapatkan informasi mengenai kepadatan dan kekuatan tanah. Tanah jenis ini juga seringkali tidak bisa menggunakan pondasi batu kali, apalagi jika kita berencana untuk membangun rumah tingkat. Tidak hanya tingkat atas, untuk pembuatan basement (bangunan bawah tanah) pun agak sulit karena membutuhkan keahlian dan penanganan khusus agar tidak terjadi kebocoran. Dan tentunya perlu juga diperhatikan masalah lantai nantinya, misalnya bagaimana cara poles marmer dan merawatnya, pondasi rumah, dll.
Bagaimana dengan tanah bekas perkebunan? Untuk lahan jenis ini biasanya rawan terdapat rayap. Untuk mengatisipasinya, pada tahap penggalian perlu dilakukan pekerjaan antirayap. Selain itu, untuk menghindari berkembangnya rayap lebih lanjut, konstruksi kayu yang digunakan juga perlu dilindungi dengan obat antirayap yang kini banyak beredar di pasaran.

2. Menentukan konsep rumah yang akan dibuat
Untuk masalah biaya tentunya sudah dipersiapkan, ada juga yang memanfaatkan kredit tanpa agunan, tabungan, dll.
Menentukan elemen-elemen atau interior rumah tersebut, seperti elemen kamar tidur, untuk itu diperlukan renovasi yang efisien .
Berikut langkah-langkah renovasi efisien
1. Kamar tidur anak digeser ke bagian belakang. Kamar anak akan menempati sebagian lahan terbuka di halaman belakang. Proses ini menghasilkan satu kamar anak yang lebih besar, berukuran 3mx3m.
2. Untuk membuat kamar anak, mereka hanya membuat atap dan membangun sebuah dinding baru di belakang. Tiga bidang dinding lainnya merupakan dinding lama. Dengan begitu, biaya yang dikeluarkan lebih hemat.
3. Penggeseran letak kamar anak menyisakan ruang baru pada area "bekas" kamar anak tadi. Area ini dimanfaatkan sebagai ruang keluarga.
4. Penggeseran ruang ke bagian belakang membuat space di bagian tengah cenderung menjadi lebih gelap. Untuk itu dibuat skylight. Hal yang sama (dengan ukuran 80cmx100cm) juga dipasang di ruang keluarga. Skylight terbuat dari akrilik 3mm (sebagai plafon) dan geteng kaca pada atap. Agar sinar matahari tidak terlalu berpendar, lubang skylight diberi pembatas seperti cerobong asap dari tripleks. (Foto: 02)
5. Kamar tidur dan kamar mandi pembantu dibuat di belakang kamar mandi utama. Penempatan kamar mandi pembantu berdampingan dengan kamar mandi utama, membuat mereka tak perlu perlu lagi membuat saluran pembuangan limbah yang baru. Saluran limbah kamar mandi baru bisa mendompleng saluran limbah kamar mandi utama.
6. Langkah akhir adalah memperbaiki elemen bangunan yang rusak. Plafon yang rusak dibuat baru. Keseluruhan lantai keramik pun diganti.